Senja, 1024
Menyaksikan dua cucu adam saling bersua.
Diam memperhatikan, diam mencuri pandang, diam
merampok senyuman
Diam lagi, lagi-lagi diam, hanya diam,
Aku tak tahu apa yang kurasa. Suka, sayang, atau
hanya rasa kagum sesaat yang buatku tersesat?
Entahlah. Tak mengerti dengan hati ini. Begitu mudah
menimbulkan rasa buat seseorang yang baru pertama bersua. Cinta? Apakah cinta
itu? Apakah ia sebentuk perasaan yang tidak bisa dibagi lagi? Apakah ia sejenis
kata akhir sebuah perasaan? Tidak akan bercabang? Tidak akan membelah diri
lagi? Titik? Penghabisan? Bukankah lazim seseorang jatuh cinta lagi padahal
sebelumnya sudah berjuta kali bilang ke pasangan-pasangan lamanya, “ia adalah
cinta sejatiku!” (nyontek: Berjuta Rasanya, Tere Liye).
Bagaimana harus
memulai ya?
Awalnya Cuma
inboxkan, berlanjut ke smsan, hingga pertemuan, endingnya gak smsan, gak
inboxkan, apalagi ketemuan. Yang buat aku lupa diri, gak mandi pagi, bikin
kurus diri. Uiiiihhh...
Ekhm..
Sebagai seorang
akhwat... ciiee.. :) harusnya aku bisa mengontrol perasaan-perasaan yg datang tak
diundang, tanpa mengetuk pintu, apalagi mengucap salam. Adududuhhh apa
ciiii.... :) yeahh
maunya aku abaikan, tapi sayang berjuta cinta, hatiku menolak atau aku yang
memaksa kehendak untuk terus membuatnya bertapa di hati, bersemayam di kepala,
berkelana di nadi.
Wajahnya,
senyumnya, cara bicaranya, lembutnya, wibawanya, dan nya nya nya lainnya. Aduuhh
jadi nglanturkan. Inti bin pokoknya, si dia tak bisa hilang dari pikiranku, tak
bisa kumengerti kaki dikepala kepala dikaki, ehhh ni kan lagu peterpan..hihihii..
Inti bin
pokoknya lagi aku seperti anak SMA yang cinta kelincian, bukan monyetan lagi. Lagi-lagi
inti bin pokoknya aku berharap sesuatu yang lebih, sampai berdoa-doa mohon
ampun pada_Nya atas segala dosa-dosa yang disengaja apalagi memang sengaja
ehhh... maksudnya doaku agar didekatkan dengannya. Yah namanya doa gak baik bin
gak bener ya gak terkabul... :(
Berhari minggu
berbulan gak sampai tahun meranalah aku menahan semuanya. Kusadari diri ini tak
mungkin dengannya, apalagi dia tak mungkin denganku. Aku yang gak cantik tapi
manis, aku yang gak tau seksi ato gak, karena bodiku gak keliatan tertutup
blues panjang. Aku yang pinter banget gak, tapi dijuluki cucu Einstein. Aku yang
gak sombong tapi takabur. Aku yang.... uuaahhhh.... ntahlah aku yang apalagi..
senja 1029
Lagi, inti
bin pokoknya harus kulupakan dia, perlahan tapi lamban mendelete semua, seluruh
tentangnya. Di saksikan senja 1029 ikrarku terucap.
gelap 1108
Sampai akhirnya
malam ini, 1108, 21:42:28 tiba-tiba dia kembali nongol, tak diundang, tak
mengetuk pintu apalagi mengucap salam, sedikit meruntuhkan
gerbangku yang telah tertutup rapat pake gembok dg berat 1000kg.
hening...
itupun ku jawab dg berpikir seribu tahun, ehhh seribu detik ding, cz ragu dan tak ingin rasa itu hadir lagi.
Robbi...
aku harus bagaimana? Atau dia yang harus bagaimana?
Kutinggalkan
kajian atau kuabaikan ajakannya?
Galau lagi...
Aku harus
jawab apa guys?
:) :(